Sunday, August 22, 2010

air, bumi, kita


Suara ini menggetarkan hatiku, walau saat ini aku sedang berada di belahan dunia lain dengan waktu itu, tapi aku pikir, dimanapun suara hujan akan terdengar selalu sama. Aku tak bisa menolak dan mengabaikan pikiranku yang membawaku akan kenangan sebelas tahun silam..

Saat itu bumi sedang basah, sama dengan sekarang.. Aku mendengar suara tetesan air dari langit.. membasahi genting, menyentuh daun-demaun, lalu tetesan itu bersatu dengan tanah, menciptakan bau yang khas.. aku suka bau itu, bau tanah sehabis hujan. Pikiranku yang penat pun seketika menghilang, mendamaikan hatiku, walau sebenarnya saat itu kalbu sedang menguasai.

Aku yang sedang bimbang itu, hanya bisa duduk terdiam di teras rumah, menyaksikan keajaiban alam yang hampir tiap hari kutemui dimusim itu. Halamanku seolah-olah mengerti akan suasana hatiku, melalui ranting-ranting pohon, dia berbisik pada angin untuk menyejukkan hatiku.. Anginpun segera melaksanakan perintah itu, berdesis ditelingaku, membelai lembut wajahku..
Aku mengucapkan terimakasih..


Kakiku beranjak dari kursi teras, ingin menyentuh tanah yang bersatu dengan air.. aku ingin berbincang langsung dengan halamanku dan penghuninya, rumput-rumput, pohon coklat, pohon pisang dan berbagai tanaman lainnya.. aku ingin menyapa ikanku yang sedang menari menyambut hujan.

Aku ingin meluapkan isi hatiku pada mereka semua, menceritakan kejadian yang kualami disekolah tadi dan beberapa hari belakangan ini.

Dikelilingi oleh pepohonan, aku berandai.. Seandainya saja aku bisa mengetahui isi hati seseorang, cukup hanya seorang saja yang ingin kuketahui hatinya. Karena aku tak bisa membacanya, tak juga bisa meraba perasaannya. Beribu kali aku mencoba untuk mencari jawaban, menebak-nebak namun selalu saja berujung dengan kesia-siaan.

Rumput, apakah menurutmu kira-kira dia mempunyai perasaan yang sama denganku? Tak perlu lah sama dengan apa yang aku miliki, karena mungkin perasaanku kini sudah terlalu bertumbuh.. seperti tunas-tunas pohon yang ada didepanku saat ini yang kian hari kian besar..
Rumput hanya bergoyang pelan, sepertinya dia juga tak tahu jawabannya..

Aku menghampiri ikan ko'i yang sedang menari itu, bertanya apakah kiranya seseorang itu akan membalas perasaanku ini dengan setidaknya sebuah rasa empati? Aku memang tak berharap terlalu banyak, empati darinya saja cukup bagiku karena itu tandanya dia ada sedikit perhatian padaku. Aku tak dianggap angin lalu saja olehnya dan perasaanku ini tak terabaikan sambil lalu.
Tapi inilah bulan kesembilan biji dari tunas itu tertanam.. Sembilan bulan aku membiarkan perasaanku ini tumbuh. Tapi kini aku masih saja berjalan dalam gelap, belum jua menemui titik terang.

Terkadang dalam perjalanan itu aku menemukan sebuah cahaya, namun cahaya itu sering sirna kembali.. terkadang cahaya itu lama sekali terangnya, membuat hatiku ini yakin akan jawabannya.. lalu aku dibuat berbunga oleh cahaya itu karena dalam cahaya itu aku mampu melihat perasaannya.
Namun tak lama kemudian cahaya itu pergi dan membuatku kembali berjalan tanpa arah.
Aku ingin sekali menemukan cahaya, supaya aku bisa melihat sekalipun hanya kenyataan pahit yang kulihat. Tapi walaupun pahit, bukankah itu lebih baik karena setidaknya aku menemukan jawaban dan tunas ini tak dibiarkan bertumbuh dalam kesia-siaan...

Hujan telah berhenti, aku melangkah menjauh dari kawan-kawan dihalaman dengan meninggalkan satu pertanyaan pada mereka.. Semoga suatu saat aku bisa memberikan jawaban itu padamu kawan.. Entah itu memakan waktu yang tak sebentar.. Namun kuberitahu kawan, jawaban apapun yang kutemukan nanti, aku takkan pernah menyesal telah menaruh rasa padanya.

No comments: