Hehehe.. seneng deh.. aku dah lama tuh ga ketemu ama si-dia. Sebenernya aku kenal dengan si dia sejak tahun 2003, tepatnya setelah aku berada di Belanda. Ditahun 2005 aku jadi semakin akrab, setelah semakin sering bertemu dengannya. Waktu itu dia ikut pergi denganku ke Leeds. Lalu sewaktu aku kembali keBelanda, dia berpisah denganku. Mau pergi menemui orang lain katannya. Kita menjadi sahabat dekat di tahun 2006, tepatnya di bulan September. Hubungan kita menjadi semakin erat dibulan November, setelah kepulangan mamaku ke Indonesia. Dia selalu ada disampingku, kecuali kalau aku sedang sibuk. Waktu itu dia mungkin merasa kalau aku nyuekin dia, jadinya dia lebih memilih pergi ketempat lain. Kalau aku pergi dengan teman-temanku dia juga enggan untuk ikut, takut dicuekin katanya. Yah aku bilang aja ke dia, kalau memang ngga mau dicuekin ya lebih baik jangan ikut.
Tahun 2006 akhir memang lagi erat-eratnya hubunganku dengannya. Aku dan dia sering pergi bersama, makan bersama, berbincang-bincang diatas ranjang sebelum tidur. Sewaktu aku terlelap, perlahan-lahan dia pergi. Kadang aku bertanya padanya, kenapa sih kmu selalu ndatengin aku malem-malem begini? Sebenarnya dalam hati yang terdalam sih aku ngga mau banget temenan sama dia. Tapi apa mau dikata, aku ngga bisa berbuat apa-apa. Tau ngga sih? Berteman sama kamu tu menyakitkan. Kadang dada ini sesak dibuatnya. Namun tak tahu mengapa aku selalu tak sanggup menolaknya kehadirannya.
Sebenernya aku ingin sekali berterus terang padanya soal ini dan berharap setelah itu dia berhenti tuk menemuiku. Tapi.. apa daya.. berada didekatnya seolah-olah aku dibuat menjadi makhluk tak berdaya. Dan akhirnya, seperti biasa pada akhirnya dia tetap berhasil menghampiriku..
Aku sangat bersyukur, ada saat dimana aku berpisah dengannya. Bulan Febuari lalu aku berpisah dengan dia.. hehehe.. Selamat tinggal, pikirku.. aku harap aku takkan bertemu dengannya lagi.
Namun sepertinya memang nasib masih mempertemukan kita kembali. Ketakutanku terjawab, akhir bulan Juli 2007 aku bertemu dengannya lagi. Sial!! Dia memang selalu berada didekatku tapi untungnya, dia tak sampai memberanikan diri untuk menyapaku. Mungkin dia canggung denganku, setelah sekian lama tak bertemu. Fiuhhh.. syukurlah. Tapi nampaknya memang sudah suratan, tuk kita selalu dipertemukan dan menyatu kembali, akhirnya di akhir Agustus dia memberanikan diri juga berbicara denganku. Kenapa sihh?? Aku benci ketika aku harus berbicara denganmu. Aku benci mendengar suaramu, menatapmu, menciummu, memelukmu. Tapi aku tak sanggup menolak semua itu, seperti aku memang menikmatinya.
Tapi pada suatu malam.. Tuhan berbisik padaku, Dia tunjukkan padaku bagaimana caranya agar aku tak bertemu dengannya lagi.
Ah benar! Selama ini dia paling takut kalau dicuekin kan? hehe..
Lalu setiap malam ketika dia mencoba untuk menyapaku, aku anggap saja dia tak ada. Setiap dia mengajakku berbicara, anggap saja aku hanya mendengar suara angin, dan berpikiran dia hanya berbicara dengan tembok. Ternyata memang manjur! Sejak itu dia jarang menemuiku lagi. Aku harap hubungan kita kali ini memang benar-benar berakhir, kalau tidak, bisa susah aku dibuatnya..
*dedicated to dia, si sepi.
No comments:
Post a Comment